Seluruh Pimpinan dan Staf Hotel Sarangan Permai Madiun mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, Semoga diampuni semua dosa-dosa kita. "Terima kasih atas kunjungan Anda"

Kamis, 22 Desember 2011

Mother Days 2011
 
  
"Kasih Ibu kepada beta tak terhingga Sepanjang Masa" demikian sedikit penggalan lagu yang menggambarkan kasih sayang seorang Ibu kepada anaknya. Kalau dipikir tidaklah berlebihan syair lagu di atas karena menjadi seorang Ibu yang baik tidaklah mudah. Dan karena perjuangannya maka kita sebagai Bangsa Indonesia memperingatinya sebagai "Hari Ibu". Perlu kita renungi mengapa ada "Hari Ibu", dimana beratnya menjadi seorang Ibu sampai-sampai dalam ajaran agama Islam meletakkan Syurga ada di bawah telapak kaki Ibu. Mari Kita renungi lebih dalam :
1. Seorang Ibu mengandung dan melahirkan anak dengan penuh kasih sayang. Ternyata di sinilah beratnya menjadi seorang Ibu, karena selama 9 bulan seorang Ibu mengandung Janin yang dibawa kemanapun dia pergi. Dan yang lebih berat lagi seorang Ibu harus mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Janin ke dunia dengan selamat. Bagi suami-suami yang berkesempatan menunggu sang istri saat proses melahirkan akan menyaksikan sendiri perjuangan berat saat proses persalinan, dimana seorang Ibu harus meregang nyawa agar bayi keluar dengan selamat dimana darah keluar begitu banyak bagi suami yang tidak kuat menyaksikan bisa-bisa akan pingsan sendiri. Kalaupun disuruh memilih suami pasti akan pilih tidak mengikuti proses persalinan karena tidak akan tega menyaksikan penderitaan sang Istri. ( Pengalaman pribadi penulis )
Ternyata memang tidak berlebihan agama mengibaratkan Syurga ada di bawah telapak kaki Ibu yang intinya segala perbuatan kita harus mendapat ridho dari Ibu.
2. Seorang Ibu harus bisa menjadi seorang Istri. Dimana harus bisa melayani suami lahir dan batin.
3. Seorang Ibu harus bisa mendidik, membimbing dan mengarahkan anaknya agar menjadi anak yang Sholeh berbakti pada orang tua, taat beribadah dan berguna bagi bangsa dan negara.
Sejarah Hari Ibu diawali dengan Pembentukan Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada saat Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuran yang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan gender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa. 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar